PONTIANAK – Nasib Hasan Karmana (60), warga Bansir Laut, Kota Pontianak, perlahan mulai membaik. Setelah rumahnya di tepian Sungai Kapuas roboh pada 11 Agustus 2026, Hasan bersama istri dan anaknya kini mendapat tempat tinggal sementara di rumah milik warga di kawasan Gang Kuantan.
Sebelumnya, Hasan terpaksa menjadikan motor air miliknya sebagai tempat berteduh. Motor air tersebut sehari-hari digunakan untuk mencari nafkah dengan membawa warga yang hendak memancing, termasuk hingga ke kawasan Tayan.

Rumah Hasan roboh saat ia sedang berada di dalam bersama istrinya, Aisyah Putri (24), dan anak mereka, Raisya Haja (6).
Hasan mengatakan, kejadian berlangsung begitu cepat. Ia bahkan sempat tertimpa bagian dinding bangunan saat berusaha menyelamatkan keluarganya.
“Waktu itu kami di dalam rumah, tiga beranak. Saya tertimpa dari bagian dinding, tapi masih sempat menyelamatkan anak saya,” ujar Hasan, Kamis (27/8/2026).
Akibat kejadian tersebut, sejumlah barang milik keluarga ikut tercebur ke air. Mereka pun kehilangan tempat tinggal dan untuk sementara bertahan di motor air yang selama ini menjadi sumber penghasilan Hasan.
Kondisi tersebut mendapat perhatian Pemerintah Kota Pontianak. Kepala Dinas Sosial Kota Pontianak, M Akif, mengatakan pihaknya bersama BPBD dan perangkat terkait langsung memberikan bantuan setelah kejadian.
Bantuan yang diberikan antara lain pakaian, makanan siap saji selama tujuh hari, serta sejumlah kebutuhan lainnya.
“Pemerintah Kota Pontianak sudah memberikan bantuan berupa sandang, makanan siap saji selama tujuh hari, dan kebutuhan lainnya,” kata Akif.
Selain bantuan darurat, Pemkot Pontianak juga sempat menawarkan Hasan untuk tinggal di rumah susun (rusun). Namun, tawaran tersebut belum diterima Hasan saat itu.
Situasi kemudian berubah setelah Mustafa, seorang warga, menawarkan rumahnya di Gang Kuantan untuk ditempati Hasan bersama keluarganya.
Hasan akhirnya menerima tawaran tersebut. Dengan demikian, keluarga tersebut tidak lagi harus menjadikan motor air sebagai tempat tinggal.
“Alhamdulillah, Pak Mustafa menawarkan rumahnya dan Pak Hasan juga sudah bersedia untuk tinggal di sana,” ujar Akif.
Menurut Akif, lokasi tempat tinggal sementara tersebut juga tidak terlalu menghambat pekerjaan Hasan. Motor air yang selama ini digunakan untuk membawa warga memancing masih dapat ditempatkan di sekitar lokasi.
“Motor airnya juga bisa dibawa ke sana, sehingga tidak mengganggu aktivitas Pak Hasan untuk membawa orang memancing,” jelasnya.
Sementara itu, rencana membangun kembali rumah Hasan yang roboh masih menghadapi persoalan. Pemkot Pontianak tidak dapat serta-merta membangun rumah di lokasi lama karena lahan tersebut bukan milik Hasan.
Terlebih, pemilik lahan diketahui telah meninggal dunia sehingga persoalan kepemilikan dan administrasi perlu diselesaikan terlebih dahulu.
“Kendalanya, rumah Pak Hasan yang roboh itu berada di tanah milik orang lain. Pemiliknya juga sudah meninggal, sehingga tidak bisa dibangun kembali begitu saja,” ungkap Akif.
Untuk sementara, pemerintah memastikan kebutuhan dasar Hasan dan keluarganya tetap mendapat perhatian. Di sisi lain, kepedulian warga menjadi jalan keluar bagi keluarga tersebut untuk memperoleh tempat tinggal setelah kehilangan rumah.
Pemkot Pontianak berharap rumah yang ditawarkan Mustafa dapat menjadi solusi sementara, sembari mencari langkah terbaik bagi keberlangsungan hidup Hasan dan keluarganya.
“Yang penting hari ini Pak Hasan sudah bersedia menempati rumah yang ditawarkan. Mudah-mudahan ini bisa menjadi solusi sementara yang baik,” pungkasnya.









