Pontianak (Hal Kalbar) – Festival Melayu Khatulistiwa II menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak untuk memperkuat identitas budaya lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.
Kegiatan yang berlangsung pada 22–25 Oktober 2026 di Alun-alun Kapuas ini menghadirkan beragam pertunjukan dan perlombaan budaya, mulai dari lomba tundang pelajar, senam jepin kreasi, tari Melayu, saprahan pelajar, mewarnai anak, hingga peragaan busana bercorak insang. Puluhan stan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut meramaikan festival tersebut.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, festival ini menjadi salah satu puncak kemeriahan peringatan hari jadi kota sekaligus ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan melestarikan warisan budaya.
“Festival Melayu Khatulistiwa ini menjadi salah satu puncak kemeriahan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Pontianak,” ujar Edi saat membuka kegiatan, Jumat (23/10/2026).
Menurutnya, kegiatan budaya tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku kreatif dan UMKM. Keterlibatan seniman, budayawan, komunitas, dan pelaku usaha dinilai dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Saya mengapresiasi panitia yang terus berkontribusi menjadikan kegiatan budaya sebagai bagian dari ekonomi kreatif, dengan melibatkan para seniman, penggiat seni dan tentunya memberikan dampak juga kepada pelaku UMKM,” katanya.
Edi berharap Festival Melayu Khatulistiwa terus dievaluasi dan dikembangkan agar dapat menjangkau peserta serta pengunjung yang lebih luas. Menurutnya, keberagaman etnis dan budaya yang tumbuh di Pontianak merupakan modal penting untuk mengembangkan festival tersebut.
“Sebagai kota yang beradab dan berbudaya, kegiatan-kegiatan budaya harus kita dukung, fasilitasi dan kita beri ruang supaya kehidupan masyarakat semakin kaya dengan budaya khas masing-masing suku, terutama Melayu dan budaya lainnya,” tuturnya.
Ia menegaskan, pelestarian budaya lokal, khususnya budaya Melayu, membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar warisan leluhur tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
“Tujuan mulianya adalah memperkuat dan melestarikan khazanah budaya lokal Pontianak, khususnya budaya Melayu. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama agar warisan luhur tersebut tidak pudar,” jelasnya.
Selain menjaga tradisi, festival ini diharapkan menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat dan terlibat langsung dalam kegiatan seni budaya. Berbagai agenda, termasuk ekspresi komunitas, pertunjukan tari multietnis, serta pameran dan pencucian pusaka, menjadi bagian dari upaya mengenalkan kekayaan tradisi kepada masyarakat.
Edi menilai generasi muda perlu diberi ruang agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga berperan sebagai penerus kebudayaan.
“Terutama bagi generasi muda, budaya harus menjadi jati diri bangsa dan bagian dari kota yang beradab,” katanya.
Ia berharap Festival Melayu Khatulistiwa dapat terus berkembang sebagai agenda budaya yang menarik lebih banyak peserta dan pengunjung, sekaligus memperkuat citra Pontianak sebagai kota yang kaya tradisi, terbuka, dan kreatif.
“Budaya Melayu janganlah hilang, jadikan ia pedoman dan pegangan,” pungkasnya.







