PONTIANAK – Waduk Penepat di Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, menjadi salah satu sumber air baku cadangan bagi Kota Pontianak saat musim kemarau dan terjadi peningkatan kadar garam di Sungai Kapuas akibat intrusi air laut.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, kadar garam di Sungai Kapuas saat ini telah mencapai lebih dari 5.000 miligram per liter. Kondisi tersebut mengancam pelayanan air bersih karena jauh melebihi batas yang diperbolehkan.

Waduk Penepat terhubung dengan Instalasi PDAM Imam Bonjol melalui jaringan pipa sepanjang sekitar 30 kilometer. Kapasitas sambungan direncanakan mencapai 1.000 liter per detik, namun saat ini pasokan yang masuk baru sekitar 200 liter per detik karena masih dalam proses perbaikan.
“Yang sekarang sedang dipompa ke Imam Bonjol hanya mampu 200 liter per detik karena masih belum optimal,” kata Edi.
Perbaikan infrastruktur inlet, outlet, dan jaringan pipa dilakukan Balai Wilayah Sungai Kalimantan I melalui anggaran APBN sekitar Rp16,6 miliar. BWS menyebut kapasitas sambungan saat ini sekitar 500 liter per detik dan akan ditingkatkan setelah perbaikan dua pipa selesai.
Edi berharap perbaikan Waduk Penepat segera rampung. Selain itu, Pemkot Pontianak mendorong pemerintah pusat menambah satu jalur pipa berdiameter 800 milimeter untuk memperkuat pasokan air baku saat kondisi darurat.
Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin menyatakan siap mengawal upaya tersebut melalui koordinasi dengan Komisi V DPR RI. Menurutnya, penyediaan air baku merupakan persoalan strategis yang membutuhkan dukungan pemerintah pusat agar pelayanan air bersih bagi masyarakat tetap aman dan berkelanjutan.









